cerita bangun pagi (cebagi)
- Yogie Muhammad Erfan
- Sep 6, 2017
- 2 min read

PERHELATAN AKBAR (part 1)
September adalah bulan yang sangat bersejarah bagi masyarakat kami. Setiap tahun dibulan ke 9 ini kami selalu mengadakan perhelatan akbar untuk menyambut kehadiran anggota baru kami. Ya, setiap wanita dimasyarakat kurcaci selalu melahirkan dibulan September. Perayaan kali ini berbeda dari tahun lalu, konsep acara dan rangkaian kegiatannya dibuat lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya. Semua kurcaci menyambut gagasan ini dengan gembira. Aku pun turut berbahagia. Tak hanya karna aku ikut dalam penyelenggaraan perayaan kali ini, tapi juga karna kali ini aku menemukan seseorang yang menjadi perhatianku, seseorang yang menjadi cintaku.
~o~
Malam ini para penyelenggara tengah sibuk mempersiapkan acara perayaan untuk esok hari. Aku pun turut serta didalamnya. Semua kurcaci tampak bekerja dengan sungguh-sungguh demi mensukseskan acara ini. Pekerjaan ini terasa menyenangkan karena diselingi senda gurau dari para kurcaci. Ketika sedang asyik bekerja, tiba-tiba konsentrasiku terganggu oleh kurcaci wanita yang berjalan didepan meja yang aku gunakan untuk menempelkan poster acara. Kurcaci itu sangat menarik perhatianku. Ketertarikanku bertambah ketika kami tengah istirahat. Saat itu beberapa kurcaci sedang iseng membungkuskan kain hitam kekepala kurcaci lainnya. Aku pun menjadi salah satu korban keisengan itu. Ketika aku tengah bersantai, tiba-tiba kepalaku ditutup dengan kain berwarna hitam. Para kurcaci pun bergantian mengolok-olokku. Saat itu aku mendengar suara kurcaci yang menarik perhatianku tadi ikut serta menjahiliku. Dia menarik telingaku yang panjang. Kejahilan itu lah yang akhirnya membuatku semakin penasaran akan kurcaci iseng itu.
~o~
Mentari pagi menjadi tanda bahwa perayaan tahun ini akan segera dimulai. Para penyelenggara memakai kostum mereka masing-masing. Tak lupa pula para ibu kurcaci yang tengah hamil juga berdandan dengan megahnya. Genderang mulai ditabuh, pertanda waktu melahirkan telah tiba. Para ibu kurcaci yang dikumpulkan dipondok yang terletak tepat ditengah kota mulai merapalkan syair kehidupan. Tak lama, tangisan para anggota keluarga baru masyarakat kurcaci mulai terdengar. Masyarakat bersorak bahagia menyambut kedatangan para penerus negeri kurcaci. Aku yang dari tadi sibuk menata altar untuk para ibu kurcaci yang telah melahirkan, sejenak menghentikan kegiatanku dan ikut larut dalam kebahagiaan. Ditengah kebahagiaanku, tak lupa ku layangkan pandanganku untuk mencari ‘kurcaci iseng’ yang ku puja itu. Aku melihatnya diatas pentas mewah, ikut larut dalam kegembiraan. Dia yang bertugas menjadi pemandu acara benar-benar berhasil membuat acara kali ini semakin meriah. Senyum yang selalu ia tebarkan diatas pentas benar-benar membuatku jatuh cinta kepadanya.








Comments